Jejak Hati di Masa Isolasi

 Jejak Jemari di Masa  Isolasi di Rumah Sakit Madani Palu.

Saat isolasi seperti sekarang ini, saya menghadapi 2 dilema. Satu sisi saya senang tidak kemana-kemana, tapi di sisi yang lain saya merasa terpenjara, karena tak bisa kemana-mana seperti biasanya. Aku melaksanakan tugas keseharianku sebagai abdi negara.

Setelah ditetapkan oleh Pemda Kota Palu melaksanakan Tugas di SMP Negeri 16 Palu terhitung mulai tgl 31 Oktober 2017....Rabu 1 November 2017 pukul 12.30 ditelepon salah seorang pegawai kantor Dinas Pendidikan Kota untuk segera berbenah menuju ke SMKN 3 Palu tepat pukul 13.00 WITA untuk mengikuti acara Pelantikan Kepala Sekolah sekota Palu...dan mengenakan pakaian Korpri.Ya Allah ....tidak mungkin dalam waktu 30 menit saya bisa menjangkau itu saat saya menerima Telepon tersebut  sementara menjaga dan merawat kakak saya yang lagi sakit di Rumah Sakit Madani saya bingung dan panik tidak tau apa yang saya harus lakukan .... Kk saya bertanya siapa yg menelepon? Saya jawab org kantor , saya disuruh ke SMKN 3 Palu mengenakan Pakaian Korpri... terus kalau saya pergi siapa yang jaga kk? Dia katakan pergi saja kan ada suster di sini.....oh iya yah kata saya.Saat itupun saya menghubungi suami(Aby) via ponselnya untuk menyiapkan baju korpri dan kelengkapannya dibawa di SMKN 3 Palu nanti disana sy salin pakaian, karena ada Tlp dari Dinas Jam  13.00 sudah harus di SMKN 3 Palu kalau saya kerumah kedondong lagi pasti terlambat jadi tolong antar baju korpri itu disana  ...baik katanya sayapun berangkat dari rumah sakit ke SMKN 3 Palu. Pukul 14.00 WITA saya sampai di SMKN 3 Palu dan Aby telah menunggu diparkiran membawa baju korpri dan saya pun mengganti pakaian saya di mobil dan setelah itu saya lari lari kecil menuju aula...disana telah menunggu pegawai dinas pendidikan menyodorkan undangan pelantikan dan buku expedisi ke saya untuk ditanda tangan...kemudian saya mencari tempat duduk yang paling belakang karena datang terlambat....sesaat kemudian Walikota Palu datang dan acarapun dimulai disela sela itu adik saya sepupu saya Izartin bertanya tadi kk tanda tangan daftar hadir no urut berapa ya? Jawab ku no 16...dia sampaikan lagi berarti sekolahnya kk itu di SMPN 16 PALU....sambil mengernyitkan kening saya berkata iyalah??????.

Acarapun berlangsung  dan tibalah pada pembacaan Surat Keputusan Penetapan Kepala Sekolah SD dan SMP sekota Palu...dan apa yang disampaikan oleh adik saya Izartin tadi benar adanya bahwa saya dilantik sebagai Kepala Sekolah SMPN 16 Palu....saya langsung hubungi Aby menyampaikan kalau tempat tugas saya baru di SMPN 16 Palu di Tawaeli ( waduh Tawaeli ini Aby disana org menganut manajemen SIRAPORO sementara saya bukan SIRAPORO) dan sangat jauh dengan tempat tinggal kita kurang lebih 22 km pulang pergi berarti 44 km ditempuh dalam satu hari....rasanya saya tak mampu melaksanakan tugas ini....saya lebih baik jadi guru mapel saja dari pada jadi kepsek ditempatkan jauh dari tempat tinggal, saya juga menggerutu saat itu dan berkata " apa ini Pemda katanya Zonasi untuk efektifitas dan efisiensi pekerjaan ASN Guru dan Kepsek Kota Palu malah sebaliknya justru menjauhkan tempat tinggal dan pekerjaan .Aby menyampaikan ke Saya terima saja itu dek berarti itu sudah tempat mu.Dan kamu  Kamu adalah org terpilih ditempat itu Pilihan yg Maha Tahu, Kamulah org yg tepat menjadi Kepsek di Sekolah jadi Bismillah saja.Luruskan Niat sebagai sebuah pengabdian kepada negara juga sebagai ummat dan hamba Allah. Lagi- lagi orang terpilih dan pilihan🤦2 minggu setelah itu tepatnya tgl 13 November 2017 melapor dan memperkenalkan diri kepada kepsek yang lama dan guru guru... keesokan harinya saya juga sudah ke kesekolah itu namun karena kepsek yang lama masih juga belum beranjak dari situ ketempat tugas barunya mungkin masih menyelesaikan administrasi dan semacamnya sehingga beliau belum ke t4 tugas barunya....dan nanti tgl 2 Desember  2017 baru dilaksanakan Acara Serah Terima Jabatan dengan Kepsek Lama Ibunda Kalsum Lawira S.Pd. Dan saya mulai melaksanakan tugas baruku sbg Kepsek SMPN 16 Palu pada Hari Senin, 2 Desember 2017. Mulai hari itulah kulalui hariku rutinitas ku menapaki dan menelusuri jalan antara Jl. Kedondong no 75 Kelurahan Donggala Kodi dan  Jl. Yanggebodu no 7 Kelurahan Lambara dengan jarak tempuh 44 KM/ hari  tiap pagi berangkat rata -rata pukul 6.30 - 08.00 perjalanan memakan waktu kurang lebih 60 - 70 menit dan pulang dari sekolah rata - rata pukul 15.30 pas sholat ashar atau usai sholat ashar kemudian singgah di rumah Kayumalue menengok kakak dan ponakan sampai sholat magrib tiba dan usai sholat magrib melanjutkan perjalanan balik kerumah di jln kedondong dalam perjalanan  tibalah waktu sholat Isya biasanya di Masjid Jami Mamboro, Masjid Gudang Dolog Tondo, Masjid Al- Istigfar Tondo, Masjid Uswatun Hasanah Talise dan Masjid Stabilul Muhtadin Karampe, sekali kali saja sholat Isya di rumah. Sesampai dirumah kedondong lelah lalu istirahat malam dan pagi berangkat lagi ke Tawaeli demikian kujalani rutinitas ku kecuali ada kegiatan dalam kota semacam rapat dinas, upacara awal bulan, upacara setiap tgl 17 bulan berjalan ataupun kegiatan MKKS saya tidak berangkat pagi kesekolah...dan usai kegiatan tsb di atas sy selalu mengusahakan untuk tetap datang kesekolah karena banyak hal yang harus diselesaikan....Demikianlah kujalani  kurang lebih 3 tahun (Mungkin sudah Lelah Hayati) sampai imun saya turun dan mengantarkan diriku kembali kerumah sakit ini menjalani masa isolasi setelah dirapid test 7 hari lalu reaktif.

Hari ini adalah hari ke -8 menjalani masa isolasi ....perawat menyampaikan usai sholat Magrib ibu kemas kemas pindah ruang perawatan Melon Kls 1. Dalam hati saya sudah curiga kalau hasil swab positif terpapar....terlebih sebelumnya telah dihubungi oleh seorang kawan yang saya minta tolong untuk mengecek hasil swab di labkesda menyampaikan bahwa hasil swab Nini so ada apapun hasilnya Nini Harus Kuat...dan Yakinlah saya hasil swab itu positif karena malam itu juga saya dihubungi adik Ipar sebagai SATGAS Covid di PKM Tawaeli menanyakan Kk sekarang di rawat di Zona Merah atau Zona Kuning? Ya di Zona Merahlah karena zona kuning itu cuma di Jambu sekarang saya di Melon....panik juga dan merasa kesal saya karena anak2 dirumah Kayumalue telah melapor kalau petugas puskesmas telah menyampaikan bahwa mereka akan di rapid besok.....keesokan harinya karena kesal khawatir...saya hubungi adik ipar dan marah apa urusanmu dg hasil swabku positif atau negatif????😡😡😡 So adakah berita sama kamu? dia bilang hasil swabnya kk sudah keluar nanti dokter yg menyampaikannya besok....dia bilang lagi istirahat saja kk org rumah itu urusan kami. Sebagai petugas kami tracking kontak terdekat....biar kami yang edukasi....kk tenang saja dan istirahat jga pikir macam macam.....(terima kasih dan maafkan diriku adik Iparku Mama Sekar).

Saat ini Virus Corona telah menyerang tubuh ini dan hasil swab menunjukkan positif Covid-19. Saya tak boleh kalah dan pasrah melawan virus corona. Oleh karena itu saya akan terus berkarya dan menulis segala lika dan liku yang kualami untuk bisa dibaca siapa saja...dan berharap bisa menjadi satu karya berupa BUKU yang meninggalkan jejak jemari di masa pandemi seperti halnya buku karya ibu Apriyanti Ningsih  membuat saya termotivasi untuk ikut meninggalkan jejak jemari di masa pandemi ini. 

Orang pandai menulis karena banyak membaca dan berlatih menulis setiap hari. Tiada hari tanpa membaca dan menulis. Perbendaharaan kata akan semakin bertambah kalau kita banyak membaca. Kita tak akan kehabisan ide dalam menulis. Sebab banyak kata-kata tersembunyi di dalam alam pikiran kita. Dengan menulis saya melupakan penyakit dan berusaha untuk sembuh. Virus corona harus dilawan dengan menyebarkan virus berbagi di kalangan sesama.

Kesuksesan itu butuh proses. Ibarat bertani di ladang subur. Kita akan menghasilkan padi yang bagus kalau prosesnya bagus. Luruskanlah  niat untuk berkarya bahkan sampai menerbitkan buku. Bukan sekedar menambah poin untuk kenaikan pangkat saja. Melainkan berbagi ilmu dan pengalaman. Ingat, berbagi itu tidak pernah membuat kita rugi. Justru semakin dibagi semakin luas ilmu yang dimiliki.

 “Dengan kata kita bisa memberikan cinta”, “Dengan kata kita juga bisa memberikan luka”. 

Dengan kata kita bisa berkreasi dengan banyak hal. Kita bisa menulis puisi, menulis cerita, menulis buku, dan menulis semuanya. Sekali lagi kita mulai dari kata. Oleh karena itu kata adalah senjata kita para guru Indonesia yang ingin bangsanya maju.Tinggalkan jejak jemari anda di era pandemi covid-19 ini dengan banyak menulis dari apa yang anda sukai dan kuasai.

Kata adalah senjata menulis para guru, yang akan semakin tajam bila diasah dengan membaca. Kita dapat mengolah kata lebih beragam dengan berlatih menulis dan dengan banyak membaca agar kita dapat memperkaya perbendaharaan kata. Karena semua tulisan akan berawal dari kata. Menguasainya dengan baik adalah kunci untuk melanjutkan langkah-langkah berikutnya. Ayo Mari Menulis, janganlah takut untuk menulis, karena kemampuan menulis dan membaca akan meningkat bila dilatih terus-menerus. Seperti kalimat bijak  yang diungkapkan nara sumber belajar menulis PGRI diawal perkuliahan bahwa:

“Mereka yang tidak berani membunuh ketakutan akan terbunuh oleh ketakutan, siapa yang tidak berani mencoba sesuatu, maka dia tidak akan menjadi siapa-siapa.”

Hasil Rapid Test Covid-19 Anda Reaktif? Apa Selanjutnya

Hasil rapid test Covid-19 reaktif bukanlah sebuah malapetaka. Rapid test sebagai alat screening awal untuk mendeteksi Covid-19 bukanlah penentu seseorang positif atau negatif corona. Tes ini dilakukan hanya untuk melihat keberadaan antibodi di dalam tubuh yang bisa menjadi dugaan awal bahwa seseorang positif Covid-19.

Dibutuhkan setidaknya dua kali rapid test untuk memastikan keberadaan antibodi. Setelah itu, bisa jadi diperlukan swab test atau tes usap dengan metode polymerase chain reaction (PCR test) guna menegakkan diagnosis. Tes lain juga mungkin dibutuhkan, seperti CT scan dan roentgen.

Ketika hasil rapid test Covid-19 positif, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

Orang itu tengah terinfeksi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19

Orang itu pernah terkena SARS-CoV-2 tapi bisa melawannya

Orang itu terinfeksi virus selain SARS-CoV-2

Jadi apa yang harus dilakukan jika hasil rapid test Covid-19 positif? Respons terhadap hasil rapid test positif atau reaktif bisa dua macam, tergantung gejalanya.

Hasil Rapid Test Reaktif dan Tidak Bergejala

Kalau hasil rapid test Anda positif tapi tak menunjukkan gejala, Anda disarankan melakukan isolasi mandiri selama setidaknya 14 hari. Sebab, bisa jadi Anda masuk kategori orang tanpa gejala (OTG). Isolasi atau karantina mandiri dengan penerapan jaga jarak fisik berguna untuk mencegah penularan ke orang lain, terutama keluarga, yang tanpa disadari.

 

Hasil Rapid Test Reaktif dan Bergejala

Jika hasil rapid test Anda positif dan bergejala, Anda mungkin perlu dirujuk ke rumah sakit khusus penanganan Covid-19. Gejala itu meliputi demam di atas 38 derajat Celsius, batuk, dan sesak napas. Dalam prosesnya, Anda dan petugas kesehatan akan mengikuti protokol penanganan Covid-19.

Di rumah sakit Covid-19, Anda akan diperiksa oleh dokter terkait untuk dinilai kondisinya. Skenario ini umumnya dilanjutkan dengan pemeriksaan swab test atau PCR test.

 

Perlu Dilakukan Pemeriksaan Swab Test PCR

Swab test atau PCR test adalah alat diagnosis Covid-19 yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Rapid test semestinya diikuti dengan swab test untuk menegakkan diagnosis kasus corona. Bila hasil rapid test reaktif, swab PCR test bisa menjadi penentu apakah orang tersebut memang positif terinfeksi Covid-19. Ada dua skenario hasil swab test lanjutan dari hasil rapid test yang positif:

Swab test positif

Dokter akan melihat kondisi pasien beserta gejalanya. Pasien bisa diminta melakukan isolasi mandiri di rumah jika gejala yang muncul tak terlalu berat dan tidak ada penyakit penyerta yang berbahaya. Keberadaan penyakit penyerta, misalnya kadar kolesterol tinggi dan diabetes, bisa memperparah kondisi pasien yang terjangkit Covid-19. Jika dokter menilai tak memungkinkan bagi pasien untuk menjalani isolasi sendiri, pasien akan dimasukkan ke ruang perawatan di rumah sakit agar mendapat penanganan intensif.

Swab test negatif

Jika hasil swab test negatif, pasien tidak serta-merta bisa pulang. Dokter tetap akan memeriksa kondisi dan gejala pasien untuk membuat keputusan. Bisa jadi dokter meminta pasien pulang tapi dengan tetap melakukan isolasi mandiri sesuai dengan protokol kesehatan. Bisa pula pasien tersebut diharuskan menjalani rawat inap, tapi terpisah dari ruang perawatan pasien positif Covid-19.


Rapid test sebagai pendeteksi dini kasus Covid-19 tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya alat diagnosis. Apa pun hasil rapid test, reaktif ataupun non-reaktif, swab test alias PCR test tetap diperlukan sebagai penegak diagnosis.

Komentar